Review Resident Evil Requiem (2026), Kisah Petualangan Leon Berlanjut di Raccoon City!

Review Resident Evil Requiem (2026), Kisah Petualangan Leon Berlanjut di Raccoon City!

Resident Evil Requiem (2026) menjadi salah satu game horor paling ditunggu tahun ini. Capcom akhirnya membawa Leon S. Kennedy kembali ke Raccoon City. Kota ini menjadi titik awal mimpi buruk dalam seri Resident Evil.

Leon kini tampil lebih dewasa dan juga jauh lebih emosional. Trauma masa lalu masih membekas kuat dalam karakternya. Cerita game ini berfokus pada penebusan dan rasa bersalah. Nuansa personal terasa lebih kental dibanding seri sebelumnya.

Berdasarkan materi promosi terbaru, Capcom ingin menghadirkan horor yang lebih intim. Bukan hanya soal zombie dan juga monster. Namun juga konflik batin sang karakter utama.

Raccoon City Versi Baru yang Lebih Kelam

Raccoon City di Resident Evil Requiem tampil sangat berbeda. Kota ini terlihat lebih rusak dan juga sunyi. Banyak area ikonik hadir dengan desain ulang modern. Kantor polisi dan lorong bawah tanah kembali muncul.

Lingkungan terasa lebih sempit dan menekan. Pencahayaan dibuat minim untuk meningkatkan rasa takut. Setiap sudut kota menyimpan ancaman baru.

Capcom memanfaatkan teknologi terbaru RE Engine. Detail bangunan terlihat realistis dan juga suram. Efek cuaca juga memberi suasana mencekam sepanjang permainan.

Baca Juga:
Horizon Forbidden West, Update Terbaru di 2026 dan Apa yang Bisa Diharapkan di DLC Mendatang?

Gameplay Lebih Lambat dan Menegangkan

Resident Evil Requiem mengusung gameplay survival horror klasik. Tempo permainan terasa lebih lambat. Pemain harus berpikir sebelum bertindak.

Amunisi sangat terbatas dalam banyak situasi. Kamu tidak bisa asal menembak. Strategi menjadi kunci utama untuk bertahan hidup.

Sistem kamera tetap menggunakan sudut pandang orang ketiga. Namun jarak kamera terasa lebih dekat. Hal ini membuat ketegangan meningkat di setiap pertempuran.

Puzzle kembali mendapat porsi besar. Banyak teka-teki mengharuskan eksplorasi mendalam. Pemain harus memperhatikan detail kecil di lingkungan sekitar.

Musuh Baru yang Lebih Sadis

Resident Evil Requiem memperkenalkan jenis musuh baru. Mereka lebih agresif dan juga cerdas. Beberapa musuh bahkan bisa bereaksi terhadap suara.

Zombie klasik masih hadir dengan variasi mutasi. Ada juga makhluk baru yang belum pernah muncul sebelumnya. Desainnya terasa lebih menjijikkan dan juga mengganggu.

Pertarungan bos menjadi salah satu daya tarik utama. Setiap bos memiliki pola serangan unik. Pemain harus mempelajari kelemahan mereka dengan cepat.

Cerita Lebih Emosional dan Dewasa

Cerita Resident Evil Requiem terasa lebih gelap. Fokus narasi tidak hanya pada wabah virus. Namun juga pada dampaknya bagi manusia.

Leon digambarkan sebagai sosok yang lelah. Ia membawa beban masa lalu yang berat. Interaksi dengan karakter pendukung terasa lebih manusiawi.

Dialog ditulis lebih natural dan juga emosional. Tidak banyak humor berlebihan. Hal ini membuat atmosfer cerita tetap serius.

Capcom tampaknya ingin mengembalikan identitas horor sejati. Mereka meninggalkan aksi berlebihan ala seri lama.

Audio dan Musik yang Mendukung Teror

Desain suara menjadi salah satu kekuatan utama. Suara langkah kaki terdengar jelas di lorong sepi. Desahan zombie terasa mengintimidasi.

Musik latar digunakan secara minimal. Keheningan sering menjadi alat utama menciptakan ketegangan. Saat musik muncul, momen terasa sangat intens.

Penggunaan audio 3D membuat pengalaman lebih imersif. Pemain bisa mendengar arah ancaman dengan akurat.

Potensi Menjadi Seri Terbaik Leon

Resident Evil Requiem punya potensi besar. Game ini menggabungkan horor klasik dan juga teknologi modern. Leon kembali menjadi pusat cerita yang kuat.

Pendekatan naratif yang lebih personal terasa segar. Fans lama dan pemain baru bisa menikmati pengalaman ini.

Jika rilis final sesuai materi awal, game ini layak diperhitungkan. Resident Evil Requiem bisa menjadi salah satu seri terbaik dalam franchise legendaris ini.